
Karya: Siti Dwi Lestari
“Jangan buka pintu itu!” Larang ibu.
Terlambat, aku sudah membuka pintu itu. Dan semuanya berawal dari situ.
“AAAA!!!” teriak gadis itu terseret masuk ke dalam pintu. Dia berputar-putar di lorong tak berujung hingga semuanya menjadi gelap.
“Airin bangun, Nak.” Seorang wanita tua menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu pelan.
“Hmmm.” Matanya perlahan terbuka mencoba memahami sekitarnya. “Cepat mandi lalu sarapan, sebentar lagi kita berangkat.” Kata nenek kemudian pergi meninggalkan Airin yang masih bingung dengan beribu pertanyaan di kepalanya. Dia yakin masih bersama ibunya tadi, meski bingung dia tetap melangkah menuruti perintah nenek. “Eh, tapi kamar mandinya di mana?” tanya Airin tertegun hingga akhirnya duduk kembali.
“Airin ayo sarapan!”
“Iya.” Kata Airin kemudian menghampiri nenek di dapur.
“Ayo cepat dimakan nanti dingin.” Airin tercengang melihat hanya ada nasi dan dua potong tempe di depannya. Seketika ia ingat, dia adalah Airin cucu nenek Saimah seorang penyadap getah yang hari-harinya dipenuhi dengan kerja keras.
“Heh, kok diam? Ayo dimakan!” kata nenek Saimah menyodorkan sepiring nasi yang masih mengepul. “Iya.” Airin menerima piring itu lalu mulai memakannya.
“Alhamdulillah ya, Nak hari ini kita bisa makan tempe.” Katan nenek sebelum menyuapkan sesendok nasi.
Deg!
Seketika hati Airin terenyuh mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa tempe adalah makanan terenak bagi neneknya.
“Em, Nek”
“Iya.”
“Apa desa kita tidak mendapat bantuan apa pun?”
“Nak, nenek sudah bilangkan kita tinggal di pelosok, desa kita terpencil mana ada orang yang mau membantu kita. Pemerintah saja tidak peduli apalagi orang lain.”
“Ya sudah, ayo berangkat keburu siang nanti panas.” Kata nenek sambil mengambil ember karet.
Airin sempat tertegun melihat neneknya meskipun badanya sudah tidak tegap, setiap langkahnya masih penuh dengan semangat untuk mencari uang.
“Ayo.” Mereka berjalan menuju hutan dengan sunyi tanpa ada pembicaraan sedikitpun, hingga akhirnya Airin membuka suara. “Masih lama ya, Nek.” Airin yang mulai kelelahan. “Sebentar lagi.” Kata nenek kemudian menyodorkan sapu tangan bermotif batik persis dengan rok neneknya.
Mereka menyusuri jalan dengan langkah yang mulai melambat karena kelelahan. Airin yang lelah juga sesekali berhenti sebentar untuk minum air. Setelah cukup lama berjalan nenek terpekik kaget melihat pekerja lainnya tewas dengan berlumuran darah. “Ada apa ini, Nek?” tanya Airin takut melihat situasi di depannya. “Nenek tidak tahu.”
Srekkkkk…
Terdengar suara di balik semak-semak.
Suara itu semakin tajam, dekat.
Jantung Airin berdegup kencang dan mulai menerka apa yang akan keluar dari semak-semak. Mungkinkah hanya seekor tupai, atau mungkin seorang pemburu binatang? Belum sempat dia memikirkan hal lain, sepasang mata bulat besar menatapnya tajam bak pedang, begitu dingin seolah siap menebasnya kapan saja. Di balik semak-semak sosok itu muncul bukan lagi sekadar suara, cahaya matahari memperjelas garis-garis hitam di atas bulu oranye.
Harimau itu keluar dengan tatapan marah, taringnya yang tajam menyisakan darah segar. Dia tak lagi diam, kaki-kakinya yang kokoh mulai bergerak mencari mangsa baru. Dalam hitungan detik harimau itu berlari siap menerkam Airin yang terpaku di tempat.
“AAAAAA!!!”
Airin tersentak kaget, seketika dia memandangi sekelilingnya ruangan bercat putih dengan foto dirinya bersama keluarga.
“Jadi semua itu hanya mimpi” kata Airin dengan napas tersengal. Dia duduk di pinggiran kasur meraih segelas air dan meminumnya hingga tandas, dia masih terus berusaha mencerna apa yang terjadi-semua hal yang dia lihat mulai dari suasananya orang-orangnya terlihat sangat nyata dan hidup. seketika dia menyadari ada sesuatu yang aneh di kamarnya sebuah kotak hitam bercorak aneh terletak di meja riasnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. dia sangat yakin tak memiliki kotak itu, dengan tangan gemetar dia membuka tutupnya. di dalamnya sebuah sapu tangan bermotif batik.
“I-ini.” Airin tercekat melihat sapu tangan yang sebelumnya dia gunakan dalam mimpinya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka secara tiba-tiba
Airin tersentak kaget hampir menjatuhkan sapu tangan terkejut melihat mamanya. “Baru bangun?” tanya mamanya. “i-iya mama ngapain di sini?” tanya Airin berusaha menyembunyikan kegugupannya.
“Cuma ngecek aja.” Jawabnya kemudian berlalu pergi.
“Eh, ma pintu itu.” kata Airin ragu. “Pintu apa?” tanya mama heran menghentikan langkahnya. “Itu yang mama larang aku buka.” Lanjut Airin. “Pintu apa sih ngelindur kamu ya.”
“Udah mandi sana bentar lagi makan malam.” kata mama kemudian pergi.
Airin berjalan gontai menuju kamar mandi berusaha tidak memikirkan apa yang dialami tadi. dia menyalakan kran membasahi tangannya untuk beberapa saat. pantulan dirinya di cermin menunjukkan betapa lelahnya dia seolah telah menghabiskan perjalanan yang begitu panjang. setelah menghabiskan sekitar 15 menit dia duduk di ruang makan dengan masih memikirkan kejadian tadi. “airin.” Mama yang terus memanggilnya. “Eh, iya ma.” Airin yang sudah tersadar dari lamunannya. “Kamu itu dipanggil dari tadi nggak nyaut-nyaut.” Kata mama sedikit kesal.
“Sebenernya kamu itu mikirin apa sih?” Tanya ayah yang khawatir melihat putrinya.
“Bukan apa-apa kok, yah.” Kata Airin. “Yaudah ayo makan keburu dingin.” Airin hanya mengangguk pelan, ruangan itu menjadi sunyi-hanya suara dentingan alat makan yang beradu. Dia melahap makanannya sembari berusaha menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
Setelah selesai mencuci piring Airin duduk bersantai di sofa bersama orang tuanya. “Mau nonton film?” tanya ayah. “boleh.” Kata kedua wanita disampingnya antusias.
“Selamat malam pemirsa, kembali lagi bersama kami di jendela nusantara bersama saya Ana Saraswati yang akan membawakan kabar terkini. pemirsa, angka kemiskinan di Indonesia masih menjadi perbincangan hangat khususnya daerah yang terpencil dan sulit diakses internet. Saat ini ada sekitar sepuluh desa yang hampir kehilangan penduduk karena keterbatasan ekonomi.”
“Miris banget ya, Yah.” Kata mama setelah melihat berita tadi. “Iya.”
Airin tertegun, entah mengapa berita tadi seolah menjawab mimpi yang selama ini dia pikirkan. Mendengar berita tadi sebuah ide muncul di kepalanya.
“Jadi mau nonton apa kamu, Rin?” tanya ayah namun malah ditinggal pergi oleh Airin. “Eh, Rin mau kemana?” Tanya mamanya yang melihat Airin begitu terburu-buru.
Sesampainya di kamar dia langsung menyambar laptop di mejanya. dilaman webnya tertulis desa Kuncoro yang merupakan tempat tinggal nek Saimah dalam mimpinya. dan sebuah kejutan terjadi desa itu memang ada meski hanya sedikit artikel yang menulisnya. “ini sungguh ada.” kata Airin terkejut melihat sebuah artikel yang berjudul ‘serba-serbi kehidupan nenek Saimah sang penyadap getah.’ Artikel tersebut memuat tentang kehidupan nek Saimah yang hanya hidup sendiri setelah anaknya pergi ke kota.
“Anaknya?” tanya Airin dalam hati. Dia mulai berpikir kira-kira siapa anak nek Saimah? apakah dia masih hidup atau mungkin sudah meninggal? atau mungkinkah dia sudah tak peduli dengan ibunya.
Tok, tok, tok!
“Airin.” panggil ibu dari luar.
“Kenapa, Ma?” tanya Airin membuka pintu dan melihat raut wajah cemas mamanya. “Kamu kenapa?” tanya mama khawatir.
“Nggak apa-apa kok. Oh iya, Mama dulu tinggal di mana?” tanya Airin dengan penasaran.
“Mama, kan asli orang sini masak kamu nggak ingat nenekmu aja rumahnya di blok satu.” Kata mama dengan tatapan heran. “Oh, iya ya.” Kata Airin nyengir kuda. “kenapa kamu nanya gitu?” tanya mama masih penasaran. “Pengen tahu aja.” Jawab Airin.
“Jadi nonton nggak?” Ayah yang tiba-tiba muncul sontak membuat Airin dan mamanya kaget. “Ayah, mama jantungan nih.” Kata mama sambil memegangi dadanya. “Habisnya lama sih.”
“Jadi nggak ini kalau nggak ayah mau ngopi.” Kata ayah memastikan. “Malam begini masih ngopi, nggak bisa tidur baru tau nanti.” Omel mama dengan tatapan tajam. “Bercanda.” Kata ayah tertawa garing. “Yaudah ayo.” Kata Airin kemudian pergi menuju sofa. mereka menonton film sambil diselingi tawa bahagia hingga filmnya selesai. “Lucu banget filmnya.” Kata mama mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa. “Iya lucu banget.” Kata mama yang masih tertawa. “Oh, ya ayah tau nggak desa Kuncoro?” tanya Airin yang sontak membuat ayahnya terkejut. “E-enggak.” Jawab ayah gugup. “Ayah tidur dulu ya capek.” Ayah berjalan pergi meninggalkan Airin yang hanya bisa saling pandang dengan mamanya.
Keesokan harinya Airin sedang berkutat dengan laptopnya, dia mencari semua informasi tentang desa kuncoro dan juga nek Saimah. mulai dari mencari lokasi, menanyai teman, dosen, bahkan kerabatnya. Namun dari semua orang yang ditanyai tidak ada informasi yang menjanjikan. hingga satu notifikasi pesan muncul. “Ayahmu dulu tinggal di desa Kuncoro.”
Pesan itu membuat Airin begitu terkejut namun disisi lain dia merasa senang karena dugaannya benar. dia ingin menanyakan hal ini lebih lanjut kepada ayahnya namun niatnya itu dia urungkan dan memilih untuk melanjutkan aktivitasnya di laptop, dia begitu fokus sampai tidak sadar kalau mamanya masuk kedalam. “Fokus banget.” Kata mama sambil meletakkan segelas jus jeruk dan camilan di meja. “Mama kapan pulang?” Tanya Airin tanpa menoleh sedikitpun. “Dari tadi.” Jawab mama. “Kamu buat apa sih kok serius banget?” Mama duduk di samping Airin sambil mengintip isinya. “Artikel.” Jawab Airin singkat.
Mamanya menatap setiap kata yang ditulis Airin dan mendapat dua kata yang menarik perhatiannya. “Desa Kuncoro.” Airin menoleh mamanya. “Iya.” Kata Airin kemudian mengambil jus yang dibawakan ibunya. “Mama tau nggak desa ini?” Tanya Airin penuh harap. “Nggak tau.” Jawab mama. “Aneh.” Airin yang bingung kemudian bertanya lagi. “Ayah udah pulang?”
“Udah tuh lagi ngopi.” kata mama kemudian berjalan mengikuti Airin yang menariknya keluar. “Ayah.”
“Ya.” Kata ayah. “Kenapa ayah bohong? sebenarnya ayah dari desa Kuncoro, kan.” Cecar Airin. “Eee itu.” Kata ayah berusaha mencari kata-kata. “dan ibu ayah namanya Saimah, kan.” Kata Airin. “Iya ” Hanya kata itu yang akhirnya meluncur dari mulut ayah. “Sebenarnya selama ini ayah ke kota buat cari pekerjaan untuk mencukupi kehidupan ibu. tapi karena sebuah kecelakaan ayah hampir nggak bisa kerja sebulan, dan karena itu ayah lupa jalan pulang, ayah juga nggak tau apa ibu masih hidup.” Kata ayah tertunduk. “Dia masih hidup.” Kata Airin tegas.
Mendengar itu ayah hanya mematung mengira-ngira apakah yang dikatakan putrinya memang benar. “Kamu tahu dari mana?” Tanya mama penasaran. “Panjang ceritanya intinya sekarang kita harus cari desa Kuncoro.” Kata Airin dengan penuh keyakinan. “Tapi di mana kita harus mencari ayahmu saja tidak ingat.” Mama menimpali. “Aku punya alamatnya.”
Ting!
Sebuah notifikasi pesan beruntun.
“Bagus.” Airin senang mendapati banyak orang yang begitu antusias membaca artikelnya. baginta itu bukan hanya tulisan tapi sebuah dukungan dan tawaran bantuan. “Sekarang hanya tinggal menunggu hasilnya.”
Delapan jam sudah berlalu, mereka masih menyusuri jalan yang sudah mulai menampakkan pegunungan. Namun perjalanan itu harus mereka lanjut, kan dengan berjalan kaki. Setelah menyusuri jalan begitu lama sebuah papan tua bertuliskan desa Kuncoro menyambut kedatangan mereka. Bau tanah yang khas menyulut rindu yang mendalam. Di sana-tepat di depan rumah tua terlihat nenek saimah dengan tatapan berbinar yang penuh rindu. “Ibu.” Kata ayah pelan dengan mata berkaca-kaca.
