
Karya: Ilaeni Amanah
Langit mulai gelap. Aroma tanah khas sehabis hujan memenuhi indra penciuman. Samar di balik mendung yang abu-abu, jingga mentari mengintip malu dengan pancar mega merah memesona di langit desa Losari.
Di suatu rumah kecil nan sederhana, seorang lelaki paruh baya dengan baju putihnya mengambil segelas air putih. Kerongkongannya basah, ia letakkan gelas kosong itu di atas meja kembali. Malam ini, televisi dipenuhi dengan berita penentuan tanggal 1 Ramadhan yang sempat terkendala. Namun, para penonton yang tak punya kepastian masih setia duduk menanti jawab.
“Gak diberitakan pun sebenare yo gak rugi, toh kalender sudah memberi tahu.” Pria paruh baya itu berucap, pak Linggar Namanya. Seraya berdiri di depan televisi beliau menatap layarnya dengan pikiran yang entah kemana.
“Pak? Nanti jadi tarawih dong,” tanya seorang gadis berusia 17 tahun Bernama Aini yang tak lain Adalah anak Bapak yang kedua. Lamunan pak Linggar buyar, tatapannya beralih ke putri tengahnya dengan begitu lembut.
“Seharusnya iya Nduk, tapi nanti cari informasi dulu. Tarawih butuh billal dan imam, cuacanya juga tidak sepenuhnya mendukung, mendung.” Jawabnya terkesan asal. Entahlah, Aini sendiri sebenarnya juga bingung dan seperti tidak punya semangat untuk menjalani Ramadhan kali ini. Gadis itu menatap bapaknya dengan datar.
“Tapi musholanya masih kotor banget loh Pak, karpetnya belum dicuci, banyak kotoran waletnya juga” Ucapnya. Sang kakak yang berada di seberang tembok tertarik untuk mengikuti percakapan “Bukannya tadi kamu udah bawa pel-pel an ya ke Mushola?”. Aini mendengus kesal. ”Tadi itu, Aku udah ajak Dona, Intan, Dinda, Fina buat bersihin mushola. Tapi mereka ternyata masih ro’an juga di Madin.” Aini menjawab dengan suara yang sedikit lebih keras, agar Ilham mendengarkannya.
Hening. Tak ada jawaban lagi.
“Semakin kesini semakin gak ada yang tarawih ya?” Mamak menyambung dari balik tirai. Beliau keluar dari kamar dengan setumpuk pakaian yang baru saja dilipat. “ Akhir zaman.” sambungnya.
“Pak”
Panggilan Ilham tak hanya mengambil alih atensi dari bapaknya saja, tapi juga Aini, dan Mamak. “Pak Seta di Madin, dan Shandi ada di rumah neneknya. Hujan, katanya besok aja.” Ilham berucap seraya menatap layar HP. Ada rasa yang sulit Aini jelaskan setelah mendengar kalimat itu dari kakaknya. Seperti kecewa, tapi lebih ke sedih, atau mungkin malah kesal.
“Padahal dulu musholanya ramai. Banyak yang tarawih di sana, lalu sekarang ke mana? Kenapa sepi sekali? tidakkah sempat mereka meluangkan waktunya sebentar saja?”
Pertanyaan itu hanya dapat disimpannya dalam otak. Berusaha untuk tidak peduli padahal dia merasa sayang dengan mushola yang sudah susah payah dibangun itu, kini terbengkalai.
Keesokan paginya, Aini terbangun karena sinar matahari yang menyusup ke kamarnya. Hari sudah mulai cerah, dan Aini masih setia berada di atas kasurnya. Maklum, gadis yang sedang haid biasanya juga molor kalau disuruh bangun kan? Apalagi dia tidak ikut sahur. Semalam madin sudah mendirikan sholat tarawih, tapi nyatanya satu Ramadhan jatuh tanggal 19 Februari yang berarti masih besok. Agenda hari ini seharusnya adalah bersih Mushola. Tapi entahlah, rasanya jiwa excited Aini yang kemarin berguguran.
Setelah menggeliat dan berusaha membuang rasa malasnya, Aini berniat bangkit dari kasur, namun obrolan singkat dari luar kamar menghentikan pergerakannya.
“Iya Nggar, lah dia menganjurkan untuk semua wali murid tarawih disana. Aku kemarin juga jadi wali anakku, makannya gak tarawih di sini.” Suara itu terdengar serius. Aini mengenalnya, dia adalah pak Seta yang rupanya tengah bertamu.
“Ya kalau memang sudah begitu, mau bagaimana lagi? Mereka juga memiliki hak.” Itu suara Bapak. Aini di balik tembok terus menyimak meski ia tak tahu apa-apa. Jika dirinya ikut nimbrung pasti tidak diperbolehkan.
Pak Seta terdengar menghela nafas panjang, “Mushola di beberapa dusun juga sama. Tidak digunakan lagi karena mayoritas warganya memilih tarawih di Madin.”
Deg.
Apa barusan itu? Jadi, yang dibicarakan soal Madin?
Jiwa kantuk Aini seketika menguap. Kali ini, dia pasang betul-betul telinganya dari dalam kamar. “Karena sekarang memang yang tarawihnya terasa berbobot itu ya cuma di Madin, Ta.”
“Disana tidak hanya mendapat pahala jamaahnya, tapi juga ilmu. Bakal pondokan begitu ya sudah jelas barokahnya.” Lanjut Bapak di tengah sesapan kopi panasnya. Pak Seta ikut menyusul menyesap kopinya. Sebetulnya Bapak tak tahu banyak, tapi dulu Ilham dan Aini juga pernah mengaji disana sebelum melanjutkan jenjang sekolah ke pesantren. Jadi mau bagaimanapun, beliau mengakui kalau Madin sudah jelasnya jadi tujuan kalau soal menitipkan anak.
“Tapi lagi pula, tetangga kita itu banyak yang punya anak kecil. Tidak mungkin kalau bayi-bayi itu dibawa ke Mushola untuk diajak tarawih kan?”
Ilham yang tengah menikmati sarapan mie gorengnya di depan api tungku turut tertawa mendengar penuturan Pak Seta. Terdengar lucu namun fakta.
“Lah, iya Seta, Madin tidak ada salahnya. Kalau kita mempermasalahkan itu malah kita yang keliru.”
Pak Seta meneguk kopi terakhirnya,”Tapi ya minimal jangan bawa-bawa soal ilmu lah Nggar. Kalau ada banyak alasan, kenapa pakai yang itu? kan yang merasa tersentil banyak.”
Bapak tertawa pelan, bingung mau menjawab bagaimana.
“Sepertinya kalau seperti ini, kita perlu usulan ke pak Kades deh Pak.”
Suara Ilham yang muncul dari balik pintu dapur mengambil perhatian Bapak dan Pak Seta. Kedua lelaki paruh baya itu menatapnya heran seakan bertanya Apa hubungannya dengan Kades?
“Kenapa harus bawa pak Kades Ham? masalahnya cuma sepele loh ini.” Bapak berucap. “ Bahkan nggak harus dibahas, seharusnya.” Ilham membawa secangkir kopinya yang masih mengepul, duduk disamping Bapak. “ Gini loh Pak, kalau kita tidak bersuara? apa jadinya bangunan itu? Semakin berkembangnya zaman pasti anak-anak muda tidak tertarik lagi untuk datang ke Mushola yang bahkan umurnya sudah tua. Kita harus bisa mengambil perhatian lewat hal lain. Dakwah bil hal contohnya.” Jelas pemuda itu panjang lebar. Bapak dan Pak Seta sama-sama terdiam.
“Biar Mushola kita jadi hidup lagi Pak.” sambungnya.
Pagi itu, luapan kesal Pak Seta ternyata tak hanya melapangkan hati. Tapi melahirkan suatu solusi yang cukup baik dan bermakna.
“Ai! mbok itu kamu aja yang ngepel! Tak ambil es batu dulu di rumah ya?!”
Gadis berkepang kuda itu langsung melesat menembus terik matahari, padahal satu patah jawaban saja belum keluar dari mulut teman-temannya. “ Dasar Dona! kebiasaan.” gerutu Dinda yang masih sibuk dengan sapu lidi di tangan nya. Sedari tadi, Fina yang mabuk debu karena ulahnya dihiraukan begitu saja. “ Ish Mbak Dinda ih! Di cuci aja loh karpetnya! penuh debu gini, capek aku pegangnya.” Keluhan Fina malah membuat ketiga temannya itu tertawa tanpa kasihan.
“Haha! sabar sek lah Fin, bentar lagi ini.” ucap Dinda menenangkan. Di Tengah riuh tawa itu, suara hentakan sandal yang kian mendekat membuat semuanya menghentikan aktivitas. Tak terkecuali Intan yang sebelumnya sibuk mencuci keset di toilet mushola, kini berlari menghampiri. “ Es gaaiiss!! Es kih lo, sueger!” teriak Dona dengan nampan berisi sebuah teko dan dua buah gelas. Semuanya merapat. Beristirahat sejenak.
Ditengah keheningan itu, Aini merenungi suatu hal. Percakapan yang didengarnya tadi pagi masih membekas di otaknya. Benar sekali, mushola ini sudah begitu rapuh. Kayu-kayunya berdebu, penuh sarang laba-laba. Engsel pintunya menjerit setiap kali dipaksa untuk terbuka. Gempa yang pernah singgah beberapa tahun lalu juga menyisakan retakan yang cukup lebar di dindingnya. “ Eh Ai, katanya bakalan ada safari ramadhan ya?”
Aini menoleh, “ Hah? safari? gak tahu ya. Soalnya belum di ACC sama pak Kades. Paling kalau jadi ya pas puasa ini.” jawab Aini sekenanya. Padahal jawaban itu belum pasti, tapi Intan sudah berseru heboh sekali. “ Widih! asik tuh! Gak sabar liat kang-kang santri yang guanteng itu!”. Dinda tertawa seraya meneguk sirup terakhirnya,” Halah, pikiran kamu itu isinya cuma kang-kang santri aja toh Tan, Intan.” Gelak tawa memenuhi mushola beberapa saat, sebelum akhirnya memudar ditelan sunyi.
“Jadi bagaimana Pak-”
“Ya, saya usahakan Kang, bukan cuma warga RW 12 yang berkeluh, tapi ada juga yang lain.” Jawab Pak Kades malam itu. Ilham dan Shandi saling tatap. Merasa tak enak hati dengan jawaban Pak Kades yang kesannya malas.
“Saya usahakan ya Kang, soalnya mengagendakan dakwah seperti itu butuh dana. Kalau kas desa tidak mencukupi bagaimana?” Tanya balik Pak Kades dengan raut tak bersahabatnya. Shandi menyikut bahu Ilham, lelaki itu langsung berdiri dan menjelaskan ulang. “ Pak, bukannya mushola-mushola itu di bangun juga menggunakan biaya dan pendanaan, kalau tidak untuk ibadah, mau di alih fungsikan jadi apa memangnya?” Pak Kades hanya diam mendengar pertanyaan dari Ilham. “ Kalau dibiarkan gelap dan tak berpenghuni, sia-sia dong dana untuk membangun bangunan itu?” Lanjutnya. Jika menuruti ego, Ilham juga tak mau ikut campur sebenarnya. Tapi dia masih memikirkan betapa awamnya masyarakat sekitarnya jika hal ini terus dibiarkan. Memang bagi sebagian orang ini sepele, tapi tidak menurutnya.
Pak Kades menghela napas panjang seraya menatap gelapnya langit. Beliau paham apa yang sedang dirasakan warganya.
“Kalau orang itu punya akal dan pemikiran yang baik, dia akan mencari tempat beribadah yang baik pula. Sholat di mushola itu tak hanya sekedar sholat, tapi ya tholabul ‘ilmi. Biar tidak rugi.” Ucap pak Ustadz Hasan kala itu. “ Orang yang beribadah itu harus tahu ilmunya. Bukan cuma sembarangan, contohnya di Madin ini. Ada pendakwahnya dan dijamin bagus untuk mendidik santri-santri. Di mushola lain belum tentu ada to yang tarawih itu juga dapat ilmu.”
Hari-hari berlalu. Tak ada tindak lanjut yang nyata setelah laporan itu. Mushola-mushola masih beraktivitas seperti biasa. Adzan isya’, tarawih, tadarus, lalu pulang. Tak jarang suatu mushola hanya dibiarkan gelap tanpa ada yang mengadzani, penduduknya memilih untuk tarawih di tempat lain yang lebih layak.
“Mushola dusun sebelah katanya gak diadzani blas, kepala dusun nya aja malah tarawih di dusun lain.” Bisik lirih seorang wanita paruh baya membuka pintu gosip sehabis tarawih. “ Lah yang biasanya jadi imam aja ngerantau. Gak ada yang bisa selain itu. Anak-anak muda pada gak mau belajar.” ucap Bu Dhe ikut nimbrung. “ Sebetulnya banyak lulusan pondok di sana, tapi ya mereka aja yang gak mau.”
Aini mencoba untuk abai. Tak mau terlibat dalam percakapan itu. Di pojok dinding ada Intan yang sibuk bermain HP, harapan kala itu pupus. Tak jadi menyambut kedatangan para kang-kang santri yang katanya mau Safari.
Semua memilih diam. Pengajuan pendapat itu tak di gubris sama sekali, seolah dianggap seperti angin lalu. Padahal tak hanya sekali dua kali usulan itu diulang. Tapi tetap saja, nihil. Tidak ada yang benar-benar mau mendengarkan. Bapak pun memilih bungkam, meski kekhawatiran itu ada dalam hatinya.
Tahun sudah berganti, namun desas desus keresahan itu semakin menjadi.
Mushola dibiarkan tak terawat,
Mushola di alih fungsikan jadi pangkalan rumput yang selesai di tali.
Mushola jadi rumah burung walet.
“Pak Kades lihat dengan sendirinya kan?” Tanya dari salah satu warga itu mengudara. Terbang bersama kepulan debu sore hari. “ Tempat ibadah, malah jadi sarang burung walet!Eman-eman Pak,” Pak Kades terdiam, bingung. Beliau merasakan sendiri betapa terbengkalainya mushola-mushola di daerahnya. Banyak konflik-konflik sosial yang timbul karena hal itu. Desa Losari tak lagi se asri dulu, dari keramaian ramadhan contohnya.
Seraya menyaksikan sinar mentari dipucuk daun, pak kades menghela nafas pelan. Netranya kembali menatap jauh ke pemukiman. Dengan senyum kecil, beliau berbisik dalam hati,
“Suara-suara itu tak seharusnya dibuang. Suara-suara itu berguna”
Aini membuang pelnya dengan asal. Capek.
Menyambut ramadhan kala ini, banyak sekali yang telah berubah. Tak ada lagi tawa kebersamaan seperti dulu. Mereka sudah semakin dewasa.
Dona memutuskan untuk pergi ke kota, bekerja.
Intan dan Fina sibuk dengan persiapan ujian kelulusannya.
Dinda tinggal dirumah neneknya. Dan Aini, membersihkan mushola bersama Bu Dhe. Tak ada semangat yang membara lagi, semua redup dimakan waktu.
“Aini!”
Lamunan Aini buyar seketika. Diseberang jalan, Ilham melambaikan tangan, meminta perhatian.
“Nanti malam dakwah Bil Hal dari Tremas tiba di rumah pak RT!! Semangat ya Nduukk!!”
Teriaknya. Binar mata Aini menyala lagi, bibirnya bungkam tak bisa berkata-kata. Ini terlalu tiba-tiba gak sih?
Gadis itu berdiri lagi mencekal erat pel-pelannya, tidak peduli dengan raut heran Bu Dhe dia berteriak kencang, menembus keheningan.
“Welcome kang-kang santri!! It’s my mushola siap menampung kegantengan njenengan semua kang! wes pokoknya I’m waiting for youu!.”
